Yang Utama itu Sholat, Sholat, Sholat!

Yang utama Itu sholat, sholat, sholat! Ungkapan itu terlontar dari mulut Tretan Aditya Muslim salah satu stand up comedian terkemuka Indonesia di dalam salah satu video di kanal Youtube Arnold Poernomo. Memang ungkapan itu ditujukan untuk berkomedi dan mengundang gelak tawa para pemirsa dalam membantah pernyataan yang kini tengah eksis yakni ‘yang utama adalah harta, tahta, renata’. Akan tetapi, saya memandang kalimat sederhana itu menjadi sangat krusial dan benar adanya akan pentingnya sholat.

Sebagai penganut agama Islam, tampaknya kerap kali kita masih suka menunda-nunda ibadah sholat. Hal ini dapat kita temui dengan fakta di lapangan yang memperlihatkan bahwa kita masih sering bergelut dengan kesibukan duniawi kala adzan tengah berkumandang.

Padahal sedari kecil kita semua telah mengetahui bahwa sholat itu termasuk dalam rangkaian rukun Islam yang lima sebagai pondasi wajib bagi orang-orang beriman dan merupakan dasar dari kehidupan seorang muslim.

Pentingnya Sholat Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Posisi sholat dalam Islam pun sangat tinggi. Sholat merupakan rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Di dalam pelaksanaannya pun sholat sendiri bukanlah aspek ritual semata, tapi juga adanya janji Allah dan adanya efek yang luar biasa kepada pelakunya, yakni shalat akan menjaga kita dari perbuatan-perbuatan buruk.

Sehingga turunlah ayat, “innasshalata tanha ‘anil fahsya’ wal mungkar.” Bahwa dengan sholat, Allah Swt akan menghalangi manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Karena hikmah shalat itu akan membimbing manusia menjadi pribadi yang lebih baik, lebih beradab, Manusia paripurna. Insan Kamil.

Belum lagi jika digali tafsir sholat itu berisi segala jantung ajaran agama Islam, yang menegaskan bahwa hidup adalah untuk mengabdi kepada Tuhan dan berbuat baik kepada sesama. Kemudian Rasulullah saw juga pernah menekankan bahwa, “Asholatu imadudin.” yang artinya, sholat adalah tiang agama.

Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam. Sholat adalah tiang Islam. Islam seseorang akan dapat berdiri tegak dengan ia mengerjakan shalat.

Sholat pun merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab pada diri seorang hamba. Hal ini dijelaskan dalam sabdanya Nabi Muhammad saw,

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.” (HR. Abu Daud).

Akan tetapi, tiang agama inilah yang sekarang sepertinya kurang diperhatikan dan tidak dipraktikkan dengan serius di kalangan umat muslim. Kita masih sering menomorsatukan kegiatan lain yang sifatnya duniawi dan menunda-nunda ibadah sholat. Bahkan, dalam pengerjaan sholat pun terkadang kita masih disusupi oleh sifat lalai dan tidak khusyu’.

Ganjaran Allah untuk Orang-Orang yang Lalai

Allah Swt menegaskan bahwa Ia sangat mengutuk orang yang lalai dan bermalas-malas dalam melaksanakan ibadah sholat. Sebagaimana firman-Nya di dalam Surat Al-Ma’un ayat 4-5,

”Celakalah orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai dalam sholatnya dan Allah memuji orang yang mengerjakan sholat (dengan khusyu`), bahkan Allah membanggakan orang yang menunaikan serta memerintahkan keluarganya agar juga melaksanakannya.”

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab r.a. pun menambahkan sebuah urgensi dari shalat dengan berkata,

“Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barang siapa menjaga sholat, berarti dia telah menjaga agama. Barang siapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan sholat.”

Imam Ahmad pun juga pernah mengatakan perkataan yang serupa,

“Setiap orang yang meremehkan perkara sholat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap sholat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan sholat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.”

Dan yang terakhir, saya akan mengutip dari salah satu syair religi terkemuka pada zaman dahulu yang mana isinya ‘walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya’. Demikianlah sebuah gambaran betapa pentingnya sholat menjadi sebuah kepentingan yang tidak boleh diduakan.

Karena pada dasarnya Allah Swt tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Nya. Bagaimana bisa kita ketika dapat menafikan panggilan sang pencipta kita hanya karena kita lebih mengutamakan panggilan selain-Nya?

Jadi semoga ke depannya kita dapat lebih memprioritaskan ibadah sholat dan senantiasa menjaga kualitas kekhusyu’an dalam sholat kita. Dengan memulai untuk selalu sholat tepat waktu, sholat di mana pun dan kapan pun ketika waktu sholat itu telah tiba.

Sehingga kelak terciptalah pribadi yang terjaga lahir batin dan menjadikan kita sebagai muslim yang kaffah.

Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim

Wallahu a’lam bis showwab.

Editor: Akhyar Ramadhan/Shidqi Mukhtasor

Avatar

Ahcmad Naufal Khairullah

Mahasiswa Ilmu Politik IIUM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *