Ust. Adi Hidayat: Untuk Mendapatkan Rezeki, Tidaklah Selalu Mudah!

Rezeki senantiasa menjadi isu yang sangat penting bagi umat muslim. Manusia ingin mendapatkan rezeki guna dapat lebih mudah mensyukuri hidup dan memenuhi kebutuhan kehidupannya. Dalam kajian Islam, rezeki senantiasa terikat dengan bahasan takdir, ridha Allah, dan berbagai dimensi keagamaan lainnya, sebagaimana dibahas oleh Ust. Adi Hidayat.

Ust. Adi Hidayat, dalam sebuah kesempatan, membawakan sebuah ceramah membahas mengenai konsepsi rezeki dalam Islam. Beliau menjelaskan bahwa rezeki ada bermacam ragam jenisnya.

“Di Al-Quran, ada delapan jenis rezeki. Salah satunya, di antara yang paling hebat, yaitu Anda belum bergerak tetapi rezeki sudah menjemput. Ada orang yang mendatangi rezeki, dan ada rezeki yang mendatangi orang.”

Beliau menegaskan dalam mendapatkan sebuah rezeki, manusia akan menghadapi tantangan dan ia menjadi tidak mudah.

“Untuk mendapatkan suatu rezeki dari pekerjaan, tidaklah selalu mudah. Akan ada persaingan, singgungan, dan tantangan. Maka mulailah untuk bersiap dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang akan datang.”

Maka turunlah QS. Al-Baqarah ayat 214, “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu?”

Ust. Adi Hidayat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai ayat Al-Quran tersebut, “Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

Rezeki dari Kisah Imam Syafi’i dan Imam Malik

Ust. Adi Hidayat bercerita kisah Al-Imam Asy Syafi’I yang sedang berdiskusi tentang rezeki dengan gurunya, Imam Malik.

Imam Syafi’i berkata kepada gurunya bahwa ‘rezeki itu dicari dulu, baru didapat’. Imam Malik berkata sebaliknya, bahwa ‘ada rezeki yang cukup beramal kepada Allah Swt, dia akan datang tanpa kita cari’.

Imam Syafi’i tidak setuju dengan pendapat gurunya, kemudian gurunya mengatakan bahwa Imam Syafi’i belum memahaminya.

Setelah itu, Imam Syafi’i pamit ke gurunya. Kemudian, di jalan beliau melihat ada seseorang sedang panen anggur. Imam syafi’i diajak untuk membantu orang tersebut. Setelah membantu panen anggur, Imam Syafi’i diberikan anggur yang ukurannya besar-besar.

Beliau merasa senang, tetapi rasa senangnya bukan karena diberikan anggur, melainkan beliau dapat membuktikan ke gurunya bahwa perkataannya benar. Beliau mendapat rezeki dari mencarinya dengan cara membantu orang, bukan tiba-tiba datang.

Imam Syafi’i kembali kepada gurunya dan menceritakan tentang kejadian tersebut. Imam Malik tersenyum dan berkata bahwa beliau bersyukur karena di siang hari yang panas, beliau ingin pergi mengajar kemudian terpikir dibenaknya menginginkan anggur. Dan tiba-tiba, muridnya datang membawakan anggur segar yang baru dipanen.

Kesimpulannya, Imam Syafi’i bekerja untuk mendapatkan rezeki sedangkan Imam Malik terpikir sesuatu kemudian datang rezeki yang beliau inginkan.

Beliau merujuk pada Al-Quran Surah Al-A’raf ayat 96, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Reporter: Abdurrahman Salim

Avatar

Abdurrahman Salim

Mahasiswa Fakultas Hukum IIUM. Taat hukum membuat hidup nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *