Tiga Cara Agar Nyaman Hidup Bertetangga di Mahallah

Alhamdulillah, ana sudah sering sekali tinggal di asrama dan kos-kosan, tempat di mana kita kerap hidup bertetangga dengan orang lain. Definisinya kurang lebih sama dengan mahallah, tempat yang kita tinggali selama di IIUM, jadi cukuplah untuk sharing sedikit pengalaman.

Silakan simak beberapa hal yang menurut ana perlu diterapkan untuk hidup bertetangga dan berinteraksi dengan baik di mahallah.

Hidup Bertetangga Harus Mengenal Principal dan Kerabat Mahallah!

Pertama, coba deh kamu mulai kenal sama principal mahallah. Sewajarnya aja, nggak usah over-acting. Hormati beliau dan staf mahallah lainnya, jaga kesopanan dan taati peraturan hidup bertetangga yang dibuat oleh pihak kampus.

Kemudian, kenalilah penghuni mahallah. Nggak lucu dong kalau kamu tinggal di satu atap tanpa kenal orang-orang yang tinggal bareng kamu? Setidaknya, coba lah berteman dengan yang sekamar, deh. Kenal di sini maksudnya nggak bisa kalau hanya sekadar tahu nama, tapi juga memahami karakternya.

Misalnya, kamu adalah orang Jawa yang ‘biasanya’ halus dan lemah lembut saat berbicara, jangan heran dengan orang Sumatera yang ‘biasanya’ suka ceplas-ceplos. Logatnya, volume suaranya, dan semuanya harus kita maklumi.

Apalagi dengan teman-teman dari negara lain yang memang culture mereka berbeda dengan kita, orang Indonesia. Hal seperti itu perlu kita telusuri lagi dan jangan menilai orang lain hanya dari ‘penampakan’ luarnya saja.

Perlu jadi catatan juga, usahakan untuk bisa mengendalikan diri di tengah orang banyak. Beda orang, beda juga cara bergaul dan hidup bertetangga dengan mereka. Kita bisa bergaul sewajarnya dengan yang lebih tua dan lebih muda tanpa merasa sok tua atau sok manja. Dengan demikian, ketenangan jiwa kita dan orang lain akan sama-sama tidak terusik.

Dalam Hidup Bertetangga, Kita Harus Peka

Selanjutnya, cobalah berinisiatif untuk menjalin hubungan kekeluargaan dan mengurangi rasa canggung dengan teman-teman di mahallah. Mungkin ia bisa dimulai dengan menumbuhkan rasa saling melindungi dan peduli.

Jangan jadi orang yang ‘semau gue’, dan jangan ada pikiran ‘ah yang penting kan sama-sama bayar di sini’. Dan juga jangan jadi benalu yang manfaatin fasilitas orang lain tanpa tenggang rasa, ya!

Berusahalah juga untuk jadi orang yang peka, tanggap terhadap situasi dan kondisi. Jangan jadi pribadi yang cuek, egois, dan ngga bisa menahan diri dari sikap menang sendiri.

Kalau mau nyaman dan bisa beradaptasi tinggal di suatu tempat tertentu, kita harus peka terhadap lingkungan. Mungkin satu contoh kecilnya adalah jangan menjadi ‘gak tahu diri’ dengan meminjam barang dan kelamaan mengembalikannya, meskipun orang itu teman baik dengan kita. Dalam adab hidup bertetangga, tentu ia bukanlah hal yang baik.

Juga berusahalah menjadi orang yang proaktif dalam menerima saran, curhat, dan kritik. Setelahnya, buatlah perubahan sedikit demi sedikit. Jangan terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Coba deh kontrol emosimu agar sedikit ‘biasa’ menanggapi orang yang berbeda-beda.

Buat Kamar yang Ramah dengan Tamu

Terakhir, buat kamar kita welcome, agar bisa dipakai untuk nongkrong teman-teman. Eits, nongkrong di kamar bukan berarti untuk gosip ya, jangan jadi ‘Bigos’ (Biang Gosip)!

Mungkin di awal kamu akan enjoy dengan hobi ngegosip ini, tapi lama kelamaan bergosip akan menurunkan izzah (harga diri) kamu di mata penghuni mahallah. Kamu ga mau kan dibicarakan seperti ‘si biang gosip nih bikin ruwet dan keruh dalam hubungan antar teman, karena udah nyebarin hal-hal yang membuat orang lain suudzhon (berburuk sangka)’?

Eh, kok jadi melebar pembahasan ‘welcome to my room’-nya? Hehe. Hal yang pasti, kamar kita memang gak luas, tapi akan jadi lapang dengan penataan yang rapih. Apalagi kalau empunya ramah, kamarnya wangi, dan bersih. Yang penting, jadikan kamar kita senyaman mungkin dan penuh cinta agar bisa nyaman dalam hidup bertetangga.

Sekian, sebenarnya masih banyak. Tapi cukup untuk tulisan kali ini. Kalau ada yang ingin didiskusikan boleh langsung hubungi ana yaa. ☺

Editor: Shidqi Mukhtasor

Avatar

Nida Rafiqa Izzati

Ketua Divisi Syiar Fotar IIUM 20/21. Mahasiswi jurusan Fiqh and Usul Fiqh di IIUM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *