Mengapa Tazkiyatun Nafs Penting?

Pembahasan tazkiyatun nafs merupakan pembahasan yang amat penting, di mana ini akan mempengaruhi setiap amal perbuatan manusia. Dan untuk melakukan suatu amalan yang baik, mesti menghadirkan hati yang baik dan bersih, sehingga output dan manfaat yang dihasilkan akan berbuah baik juga.

Ibarat sebuah gelas yang kotor, mau bagaimana pun kita menuangkan air bening, airnya akan berubah menjadi kotor. Dan meskipun diisi dengan air yang lezat sekalipun, tidak akan ada yang minum karena kotor. Tetapi jika gelasnya bersih, dan diisi dengan air bening akan tetap bening dan bersih. 

Begitu pula dengan jiwa kita. Jika jiwa atau hati kita bersih, ia akan siap menampung dan menerima kebaikan. Sebaliknya jika jiwa kita kotor, kebaikan apapun akan susah untuk diterima, sebagaimana gelas kotor yang tak siap menerima air bening.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Makna Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata, tazkiyah yang artinya at-tathir, pensucian atau pembersihan. Karena itu, zakat yang memiliki akar kata yang sama dengan tazkiyah disebut zakat, karena ia ketika ditunaikan, akan mensucikan harta dan jiwa. Sedangkan an-nafs, (jamak: anfus atau nufuus) bermakna jiwa atau nafsu. Dengan demikian, tazkiyatun nafs memiliki makna pensucian jiwa atau nafsu.

Tazkiyah juga dapat berarti an-numuww, yang artinya tumbuh atau berkembang. Di samping hati yang sudah bersih, mesti dihiasi dengan sifat-sifat yang baik dan terpuji sehingga jiwa dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat.

Maka, dari tinjauan di atas dapat disimpulkan perkara tazkiyatun nafs, meliputi dua hal. Pertama ialah menyucikan jiwa dari sifat-sifat tercela/buruk (takhalliy) seperti, riya, hasad, iri,ujub, sombong, nifak, kufur dan sebagainya. Kedua, menghiasi jiwa dengan sifat-sifat yang terpuji (tahalliy) seperti, ikhlas, syukur, sabar, jujur, tawakkal, cinta dan kasih sayang.

Mengapa Tazkiyatun Nafs itu Penting?

Apa yang menjadikan pensucian jiwa itu penting, karena ialah sumber seluruh perbuatan. Inilah yang menjadikan setiap amal perbuatan setiap manusia berbeda kualitasnya satu dengan yang lainnya sesuai dengan apa yang  ada di dalam hatinya. 

Perkara niat bukan sebatas nawaitu yang diucapkan lewat lisan, namun itu lebih condong kepada dorongan hati yang didasari dengan keimanan yang benar. Ada orang yang memang memiliki iman kepada Allah, namun belum sempurna jika dilihat pada kehidupan sehari-harinya.

Misal, ia masih suka menunda-nunda sholat lima waktu yang merupakan perkara wajib di dalam agama. Artinya apa? Iman yang ia miliki masih belum sempurna dan keyakinan kepada rabb-nya hanya sebatas keyakinan tanpa kecintaan dan kepatuhan yang sebenarnya. Padahal jika dibandingkan dengan dosen, profesor, dokter, mereka akan lebih patuh dan mau menuruti keinginan mereka dengan cepat.

Karena apa? Karena ia menyakini dan tak meragukan kapasitas mereka sebagai profesi yang mereka masing-masing tekuni. 

Pertanyaannya, apakah kita dengan lancangnya berani meragukan kapasitas Allah Swt sebagai Rabb yang satu, sehingga kita berani menunda nunda perintahnya, enggan melakukan perintahnya, dan berani melakukan kemaksiatan tepat di hadapan-Nya?

Apakah kita bangga menjadi makhluk yang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah Swt? Sebenarnya apa visi kita hidup di dunia dan apa yang kita kejar di dunia ini, padahal Allah Swt sudah menawarkan kehidupan yang abadi di akhirat nanti?

Jika kita masih memiliki perasaan seperti ini, ada baiknya kita berbenah dari sekarang. Betapa banyak orang orang yang bersusah payah melakukan amal kebaikan, namun tak ada artinya di sisi Allah Swt, hanya karena niat yang salah dan keyakinan yang belum sempurna. 

Ada juga orang yang memiliki amalan yang sangat sepele, namun ia mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Sehingga itulah yang menjadikan Allah Swt ridho kepadanya dan menjadi sebab masuknya ia ke surga-Nya.

Maka, bagaimanakah definisi hati atau jiwa yang selamat itu? Ia adalah hati yang selamat adalah hati yang terbebas dari syahwat/nafsu, jauh dari keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah Swt dan dari setiap syubhat, dan terbebas dari kecenderungan yang menyeleweng dari kebenaran.

Setiap apa yang dilakukan didasari dengan lillah karena Allah Swt. Marahnya, cintanya, pengharapannya, takutnya, keinginannya semua hanya karena Allah dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Hatinya sudah terikat kuat dan menjadikan Rasulullah sebagai panutan utama dalam berbuat dan bertindak. Ia tidak akan berani bersikap kurang ajar dan mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan dan perbuatan. 

Bagaimana Langkah Membersihkan Hati? 

Pertama, kita harus sadar betul dan mengimani bahwasannya Allah lah Rabb sekalian alam yang mengutus Rasulullah saw dan mengajarkan kita arti iman yang sesungguhnya. Aqidah yang benar akan menjadi pondasi terkuat untuk selalu istiqomah dan teguh menghadapi rintangan hati dan goncangan jiwa saat menjalani terjalnya jalan kehidupan.

Kedua, untuk membersihkan hati kita mesti menjauhi sumber-sumber kekotoran dan keburukan. Kita harus menutup segala pintu-pintu yang berpotensi mengarah kepada kemaksiatan dan keburukan. Setan tidak akan menggoda anak adam untuk melakukan kemaksiatan secara langsung dan terang-terangan, namun secara bertahap dan selangkah demi selangkah.

Ketika hati merasa adanya kecenderungan nafsu untuk mendekat pada kemaksiatan, maka jangan ragu untuk menghentikannya sama sekali.

Ketiga, memperbanyak zikir, tilawah, shalawat, istighfar, doa dan qiyamulail. Ketika kita sudah memiliki iman yang kuat dan jauh dari kemaksiatan, beribadah akan terasa ringan dan bahkan ibadah seolah menjadi sebuah kenikmatan yang sangat dibutuhkan seorang mukmin.

Mereka akan merasa sangat bersalah dan merugi ketika melewatkan amalan-amalan sunnah sekalipun. Ibadah akan menjadi sebuah kebutuhan hidup yang tampanya hidup akan terasa hampa dan tak bernilai.

Maka, hati yang sehat selalu mengutamakan ‘makanan’ yang bermanfaat dari pada racun yang mematikan. Makanan terbaik adalah keimanan, dan obat terbaik adalah Al-Quran.

Tanda hati yang sehat adalah ‘kepergiannya’ dari dunia yang sementara menuju akhirat yang abadi. Di sana ia tinggal dan seakan-akan menjadi penghuninya. Kehadirannya di dunia ini hanya sebatas musafir yang mengambil kebutuhannya, lalu kembali ke kampung asalnya.

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah berpesan, 

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل

“Di dunia ini, hendaknya kamu berlaku seperti orang asing, atau orang yang hanya lewat.”

Dan sepatutnya lah kita berlaku demikian. Jadikan dunia sebagai ladang dalam beramal sebanyak-banyaknya, dan kembalilah dengan bekal yang cukup.

Uhibbukum fillah…

Editor: Ahmad

Avatar

Abdullah Rasyidi Al Ibrahim

Mahasiswa Usul Fiqh di International Islamic University Malaysia. Ketua Divisi PSDM Fotar IIUM Periode 20/21.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *