Tiga Perbuatan Tercela yang Sering Tidak Disadari

Kita sebagai seorang muslim sudah sewajarnya selalu berusaha untuk beribadah dan menjauhi perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah. Namun seiring berkembangnya zaman, banyak dari kita yang lalai dalam menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan dosa.

Hal ini disebabkan oleh masuknya pengaruh budaya barat ke masyarakat Islam yang menyebabkan pengikisan pengetahuan dan kesadaran dalam menjalankan agama Islam oleh para pemeluknya. Akibatnya, banyak dari kita yang tidak sadar bahwasanya sering melakukan perbuatan tercela, sebagaimana berbagai perbuatan berikut ini.

Perbuatan Tercela Ikhtilat, Bercampurnya Lawan Jenis

Keburukan yang sering kita lakukan tetapi kita tidak sadari salah satunya adalah ikhtilat. Ikhtilat merupakan bercampurnya antara laki-laki dan perempuan di satu tempat. Perbuatan tercela ini ditunjukkan dengan banyaknya pasangan muda-mudi yang berdua-berduaan di tempat umum walaupun bukan mahromnya.

Tanda lainnya ialah bercampurnya antara laki-laki dan perempuan ketika mengadakan perkumpulan atau sekedar nongkrong di tempat umum tanpa memperhatikan jarak di antara mereka. Misalnya pada saat konser, para wanita muslimah banyak yang rela berdesakan dengan para lelaki untuk sekedar menikmati alunan musik yang dilantunkan oleh penyanyi pujaannya.

Sungguh miris rasanya melihat keadaan masyarakat Muslim Indonesia yang tidak lagi mempermasalahkan perihal ikhtilat. Padahal Rasulullah pernah bersabda,

“Dari Ibnu Umar beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaknya kita khususkan pintu ini untuk wanita.’ Nafi berkata, ‘Maka Ibnu Umar tidak pernah masuk lewat pintu itu hingga wafat.” (HR. Abu Daud, no. 484 dalam kitab ‘Ash-Shalah).

Dari hadis itu dapat kita telaah bahwasanya para sahabat di zaman Rasulullah sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan perempuan yang bukan mahramnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari fitnah yang dapat terjadi.

Riya’, Ingin Amalnya Dilihat Orang Lain

Riya’ diambil dari bahasa Arab yang berasal dari kata ru’yah yang artinya menampakkan. Secara umum, riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan atau menampakkan ibadah kepada orang lain dengan berharap pujian darinya.

Apalagi di zaman yang modern ini, yang mana aplikasi media sosial begitu digandrungi oleh masyarakat dari berbagai macam lapisan, entah itu lelaki atau perempuan, kaya ataupun miskin, pejabat hingga rakyat biasa semua begitu menggemari untuk update status di medsos.

Banyak dari kita yang tidak sadar ketika mengunggah postingan tentang beramal baik di sosial media dengan tujuan beribadah kepada Allah, lama kelamaan niat itu bergeser menjadi mencari popularitas dan pujian dari orang lain.

Hal itu sangatlah berbahaya dikarenakan riya’ merupakan salah satu syirik kecil. Allah telah berfirman pada Surah Al-Baqarah ayat 264 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” – Al-Baqarah : 264

Maka dari itu kita perlu meluruskan niat apabila ingin mengunggah postingan yang berkaitan dengan amal ibadah kita agar tidak menjadi riya’.


Tidak Menjaga Amanah

Semakin tinggi jabatan yang kita pegang maka semakin besar amanah yang mesti kita pertanggungjawabkan. Entah itu dari ketua kelas, satpam, camat, walikota hingga presiden sekalipun mempunyai amanah yang mesti dipertanggungjawabkan kepada pemberi amanah dan kepada Allah.

Tetapi apabila kita tidak bekerja keras, menerima suap, korupsi, pilih kasih dan lain-lain, maka kita sudah mengkhianati amanah yang kita peroleh. Sebagai contoh amanah sebagai pelajar, apabila kita bermalas-malasan tidak mau belajar, bolos kelas, ataupun tidak mengerjakan tugas, maka kita sudah tidak melakukan amanah sebagai seorang pelajar.

Apakah itu semua kita lakukan secara tidak sadar atau pura-pura tidak tau, namun satu hal yang pasti, setiap amanah akan dipertanyakan oleh Allah di akhirat kelak. Maka dari itu, kita harus selalu sadar akan pentingnya menjaga amanah yang dipercayakan kepada kita.

Inilah beberapa perbuatan buruk yang sering kali kita tidak sadar sering melakukannya. Kita harus selalu bermuhasabah diri untuk terhindar dari perbuatan yang mana kita tidak bermaksud untuk melakukannya.

Editor: Alfiyah RA/Shidqi Mukhtasor

Avatar

Musthafainal Akhyar Ramadhan

Mahasiswa IIUM. Penulis senja.