Pendidikan Agama itu Dasar Mendidik Anak, Titik.

Dulu, saya tabu dengan banyak hal. Mungkin karena sempitnya ruang gerak saya sehingga belum memahami bagaimana kinerja dunia luar. Bagaimana cara kita memilih kawan, bagaimana kita menghadapi lingkungan yang tidak sesuai syariat, bagaimana orang lain melihat kita sebagai seorang muslim.

Setelah menjadi mahasiswa, saya paham. ‘Oh begini toh, oh kita harus begini, kita harus begitu.’ Jujur, saya kaget. Hidup sebagai seorang anak yang dilarang ini itu, yang disekolahkan di sekolah Islam, yang di pesantren mondok jauh dari rumah, lalu tiba-tiba harus pergi merantau di salah satu kampus negeri di Indonesia. Waduh, culture-nya aja udah beda. Walaupun tinggal di ibukota tapi tetap saja kaget. Karena jujur saya anak rumahan yang nggak tahu gimana pergaulan di Jakarta. Gaulnya sama anak komplek atau nggak remaja masjid. Terus tiba-tiba dikasih tau, ‘ini loh dunia luar, liar boss.’

Wah, harus bagaimana nih?
Harus pandai bergaul bukan? Tau mana kawan mana lawan.
Di sekitar saya, yang mabok? Ada. Yang jadi ayam kampus? Ada. Yang suka check-in sama pacarnya? Ada. Yang suka skip shalat? Ada. Yang nggak bisa ngaji? Ada. Banyak pokoknya.

Ya Allah, seketika saya bersyukur. Bersyukur punya orang tua yang mendidik dan mengajarkan pendidikan agama kepada saya dengan baik. Jadi, bisa menempatkan di mana harus tinggal, bisa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Orang tua saya selalu bilang, ‘Dasar yang harus dimiliki dalam hidup itu pendidikan agama, penanaman akhlak yang baik, sisanya nyusul. Nggak papa rangking kelas, yang penting nggak ninggalin shalat, bisa ngaji, soal agama nomor satu pokoknya ya.’

Tapi, bukan berarti orang tua saya tidak memedulikan soal akademik anak-anaknya. Mereka peduli, tapi tidak menomorsatukan hal tersebut. Dulu, orang tua saya tidak pernah memberikan anak-anaknya private khusus mata pelajaran sekolah. Mereka memberikan private tahsin dan tahfidz.

Umi selalu bilang, ‘Dunia itu fana, nak. Gausah dikejar ya. Banyakin amalan untuk nanti di akhirat. Umi dan Abi tidak butuh rumah di dunia nak, tapi tolong buatkan umi istana di akhirat. Jangan lupa shalat 5 waktu ya nak, shalat malam, tilawah, puasa sunnah.’
Rasulullah saw bersabda: “Suruhlah anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Editor : Nadia Fitri Salamah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *