Mencari Pasangan yang Sekufu’, Perlukah?

Saat hendak menikah, tentu saja hal yang harus kita lakukan adalah mencari pasangan terlebih dahulu. Mencari pasangan bukanlah hal yang mudah dan perlu sangat berhati-hati, karena pasanganlah yang akan menemani kita dalam menghabiskan sisa usia kita. Sangatlah wajar jika banyak sekali pertanyaan yang timbul di benak ketika kita hendak mencari pasangan, seperti “bagaimana mencari pasangan yang bisa bergandengan tangan dan menua bersama dengan menerima segala kekurangan masing-masing?” “apakah orang pilihan kita adalah orang yang tepat dan bisa membersamai dalam mengarungi hidup dalam ikatan pernikahan?” “seperti apa pasangan yang sesuai untuk kita?” atau “perlukah mencari pasangan yang sekufu’?” dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Sepertinya istilah sekufu’ sudah tidak asing lagi ya, istilah ini sangat lekat dengan pembahasan seputar pernikahan. Lalu, apa urgensi dari mencari pasangan yang sekufu’?

Kufu’ yang berarti sepadan atau setara berasal dari kata bahasa arab “Kafa’ah”. Kafa’ah adalah kesamaan dalam segala hal, sesuku, sebahasa, senegara, jenjang pendidikan yang sama, juga keadaan ekonomi yang sama.

Barang siapa yang keluar dari kafa’a atau kesepadanan ini, maka dia akan membutuhkan extra waktu atau tenaga, dan mungkin akan lebih menyulitkan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan rumah tangga kedepannya. Bisa dibilang, mencari dan mempunyai pasangan yang sekufu’ akan mempermudah berjalannya roda rumah tangga.

Sekufu’ atau tidak sekufu’ dalam pernikahan sebenarnya adalah pembahasan luas, bukan hanya kontemporer tapi ulama-ulama terdahulu juga sudah ramai membahas hal ini, pembahasannya cukup panjang. Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan kafa’ah itu adalah sepadan dalam aspek agama.

“Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung

–HR. Bukhori no 4700-

Kemudian ada perbedaan pendapat soal nasab (keturunan), maal (ekonomi), kecantikan atau ketampanan (tidak dibahas secara sorih, tapi ada perdebatannya) seperti Imam Maliki yang membolehkan seorang wanita tidak menerima pinangan laki-laki karena Qoro’ (botak, tidak keluar rambut dari kepala), bahkan ketika sudah menikah dan ketahuan, diperbolehkan untuk digugat cerai.

Secara sorih memang tidak ada, tapi secara detail justru ada. Intinya, dalam Al-Qur’an, sunnah dan juga siroh, empat aspek yang disebutkan dalam hadits di atas itu ditekankan. Nabi mendukung keempatnya ini ada diantara laki-laki dan perempuan.

Kesetaraan Pasangan Dalam Aspek Agama

“….إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ…”

“Sesunguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”

Seorang yang bertaqwa itu menjadi kufu’ utama, sang lelaki saleh, pun si wanita sholehah. Ulama sepakat, ketika ada seorang pemabuk yang melamar perempuan, diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk ditolak.

Atau seorang laki-laki yang sudah jelas-jelas sumber peghasilannya haram, diperbolehkan untuk ditolak. Ini semakin menguatkan bahwasanya, faktor agama adalah faktor utama kafa’ah yang harus dipertimbangkan oleh perempuan ketika menerima pinangan laki-laki.

Kesetaraan Pasangan Dalam Aspek Keturunan dan Ekonomi

Keturunan dan harta adalah hal yang berhubungan.

“…لا تنكحوا النساء إلا الأكفاء…”

“janganlah kamu menikahi perempuan kecuali yang sekufu’ denganmu”

Sekufu’ dalam penggalan hadits ini adalah kesetaraan dalam nasab atau status sosial. Penekanan nabi soal kesetaraan dalam nasab, didukung ketika ada sahabat yang diperbolehkan menceraikan istrinya karena perbedaan status sosial. Anak angkat Rasul, Zaid bin Haritsah yang pernah menikahi Zainab binti Jahsyi. Zaid merupakan mantan budak saat menikahi Zainab binti Jahsyi, sedangkan Zainab merupakan wanita dari keluarga terpandang yang memiliki banyak harta.

Sebenarnya tidak ada masalah ketika mereka menikah, akan tetapi, seiring berjalannya kehidupan sebagai sepasang suami istri, seringkali timbul masalah ketika mereka tidak memiliki kesepamahaman dikarenakan status sosial yang berbeda. Kemudian Allah membolehkan pasangan ini untuk bercerai, kemudian Allah menikahkan Zainab binti Jahsyi dengan Rasulullah.

Kisah ini meneguhkan bahwa status sosial juga hal yang penting dalam kafa’ah, yang berkaitan dengan nasab dan maal

Kesetaraan Pasangan Dalam Fisik

Suatu hari Rasulullah pernah bertemu dengan Abu Said Alhudri, Abu Said Alhudri mengabarkan kepada Rasulullah bahwa dia akan menikahi salah satu wanita dari kaum anshor, kemudian Rasulullah bertanya “apakah kamu pernah melihat dia?” “belum wahai Rasul”. Rasulullah berkata : “coba lihat dlu, karena wanita anshor memiliki sebuah keunikan”.

Bisa jadi keunikan itu membuat dia tidak tertarik lagi, penggalan kisah dari hadits tersebut memang tidak menjelaskan bahwa kecantikan atau ketampanan adalah segalanya, tapi Rasul memberi isyarat bahwasanya penting untuk memperhatikan paras juga. Untuk apa? Untuk melanggengkan hubungan.

Rasul ingin menta’kid, bahwa sebelum menikah kedua calon mempelai harus sudah merasa sreg. Oleh sebab itu disarankan untuk nadzor terlebih dahulu. Karena ketika kamu sudah melihat maka akan melanggengkan hubunganmu

Bisa disimpulkan bahwa keempat aspek tersebut menjadi pertimbangan dalam islam. Akan tetapi, jika kita melihat dari syariat islam secara komprehensif sebagai seorang muslim, memang yang menjadi prioritas utama adalah aspek agama dan akhlak, bagaimana dia sholat, bagaimana puasanya, bagaimana dia bermuamalah dengan orang di sekitarnya, itu yang menjadi faktor utama kafa’ah menurut para ulama.

Akan tetapi, menurut saya, akan sangat ideal dan komprehensif juga proposional jika kita mempertimbangkan faktor-faktor yang lain seperti keturunan dan status sosial.

Dikarenakan, secara manusiawi, tentu tidak mudah bagi seorang yang lahir dan tumbuh dari lingkungan yang status sosialnya rendah, kemudian harus menikah dengan seseorang berstatus sosial tinggi. Manusiawi jika seleranya beda, manusiawi berbagai permintaannya beda, kita tidak bisa memaksa seseorang dengan status sosial rendah untuk menaikkan standartnya, begitu pula seseorang dengan status sosial tinggi yang tidak bisa kita paksa untuk menurunkan standarnya.

Oleh sebab itu, ulama memberi nasihat, meskipun kita mengutamakan Ad Diin dan Khuluq, jangan lupa untuk mempertimbangkan aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan duniawi. Karena yang berhubungan dengan duniawi inilah yang akan membuat hubungan menjadi harmonis dan adanya kesepahaman.

Karena status sosial dan ekonomi juga berkaitan dengan keluarga, sedangkan pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi dua keluarga. Jadi, jangan sampai kita memiliki pasangan yang hanya mendukung satu sama lain, tetapi keluarganya tidak saling mendukung.

***

Wallahu A’lam bis Showab. Semoga Allah memudahkan hambanya-Nya yang ingin menyempurnakan separuh agama untuk menemukan pasangan yang sekufu’ dan diridhoi.

Editor: Abdurrahman Salim

Avatar

Dianisa Dwi Rahmani

Mahasiswi Quran and Sunnah Studies IIUM, anggota Div. Keagamaan PPIM 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *