Kondisi Kaum Pagan dan Mukjizat Nabi Ibrahim

Sejak kecil, Nabi Ibrahim dianugerahkan kecerdasan tinggi. Beliau mampu membedakan antara yang benar dan salah sesuai yang tercantum pada surat Al Anbiya ayat 51. Allah memang telah menyiapkannya untuk menjadi seorang nabi. Ketika beranjak dewasa, beliau mulai berpikir tentang siapa yang harus disembah sebagai Tuhan karena orang-orang di sekitarnya menyembah berhala yang terbuat dari batu.

Pada surat Al Anam ayat 76-79, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim melihat bulan, bintang, dan matahari. Namun setelah mengamatinya, beliau berpikir, “Aku tidak suka dengan tuhan yang tenggelam.” Akhirnya, beliau mencapai kesimpulan bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menciptakan alam semesta ini.

Mengambil kutipan dari buku “Filosofi Nabi Ibrahim Mencari Tuhannya Melalui Bulan, Bintang, dan Matahari.” karya Edi Sumanto, yang berbunyi “Tuhanku adalah yang menciptakan surga dan neraka, Tuhanku adalah yang menciptakan manusia, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan apapun yang ada di bumi.”

Dengan keyakinan tersebut, Nabi Ibrahim merasa terkejut dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh orang di sekitarnya. Bahkan ayahnya, Azar, menyembah berhala yang dibuatnya sendiri. Kemudian, beliau bertanya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (QS. Al Anbiya: 52).

Beliau merasa heran mengapa mereka menyembah sesuatu yang tidak bernyawa dan bahkan tidak lebih terhormat daripada manusia.

Orang-orang kafir tersebut menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (QS. Al Anbiya: 53).

Mereka tidak punya alasan selain untuk mengikuti warisan dari leluhur. Bagi Nabi Ibrahim, alasan tersebut sangat tidak masuk akal. Hanya karena nenek moyang mereka menyembah berhala tidak menjadikannya sebagai perbuatan yang benar.

Nabi Ibrahim kemudian dengan tegas bersabda, “Sesungguhnya, kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Anbiya: 54).

Nabi Ibrahim berusaha membuka pikiran orang-orang dan menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah bentuk bid’ah. Di sisi lain, orang-orang kafir merasa terkejut dengan ucapannya karena, selama ini belum pernah ada seorang pun yang menentang pebuatan menyimpang mereka. Terlebih beliau adalah anak dari seorang pembuat berhala ternama.

Orang-orang kafir tersebut bertanya, “Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau main-main?” (QS. Al Anbiya: 55).

Nabi Ibrahim menjawab, “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; (Dia-lah) yang telah menciptakannya ….”  (QS. Al Anbiya: 56).

Beliau mencoba menjelaskan bahwa sekeras apapun mereka menyembah berhala dari pagi sampai malam, perbuatan tersebut sia-sia. Berhala hanyalah patung yang tidak memiliki kekuatan karena mereka diciptakan oleh manusia dan tidak bisa menciptakan apapun.

Hanya Allah-lah Tuhan yang berhak untuk disembah. Dialah yang menciptakan dan memiliki semua hal. Nabi Ibrahim juga menegaskan bahwa dia mampu mempertanggung jawabkan kesaksiannya kepada orang-orang kafir.

Suatu ketika, ada sebuah festival budaya besar. Semua orang pergi untuk merayakannya. Azar berusaha membujuk anaknya untuk ikut merayakan, “Nak, jika kamu mengikuti perayaan ini, kamu akan sangat menghargai Tuhan kita.”

Mulanya, beliau mau mengikuti, namun kemudian beliau terjatuh di jalan dan tidak ada seorangpun yang memberi perhatian.

Dia bersabda, “Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” (QS. Al Anbiya: 57).

Pada ayat selanjutnya, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim menghancurkan semua berhala satu per satu dengan sebuah kapak. Hanya satu berhala yang ditinggalkannya, yaitu berhala yang paling besar. Kemudian, dia menggantungkan kapaknya di leher berhala tersebut “agar mereka akan kembali (untuk bertanya) kepadanya.”

Ketika orang-orang kafir tersebut kembali, berhala-berhala yang mereka sembah sudah hancur berkeping-keping. Mereka bertanya, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini  terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.” (QS. Al Anbiya: 59).

Beliau menanggapi mereka yang telah mendengar kata-katanya, sembari mengutuk para penyembah berhala dan mencoba menghancurkan berhala. “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (QS. Al Anbiya: 60).

Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan.” (QS. Al Anbiya: 61).

Menurut pendapat Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Azhar, saat itu, yang mengarahkan penangkapan Nabi Ibrahim adalah Raja Nimrud.

Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” (QS. Al Anbiya: 62).

Dengar cerdas, Nabi Ibrahim menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat bebicara.”(QS. Al Anbiya: 63).

Sesungguhnya, memang hal inilah tujuan utama Nabi Ibrahim. Beliau mencoba untuk menunjukkan kepada mereka bahwa penyembahan terhadap berhala adalah perbuatan yang salah. Ucapan Nabi Ibrahim menyadarkan mereka bahwa berhala yang mereka sembah memang tidak memiliki kuasa apapun. Mereka tidak mampu berbicara dan mereka juga tidak dapat dibunuh. Mereka memahami bahwa sebuah berhala tidak bisa bergerak untuk membunuh berhala lainnya.

Berhala-berhala tersebut hanyalah benda mati. Namun ketika akhirnya menyadari hal tersebut, mereka berkata, “Sesungguhnya, kamulah yang menzalimi (diri sendiri).” Kemudian, mereka menundukkan kepala dan berkata, “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala itu) tidak dapat berbicara.” (QS. Al Anbiya: 64-65).

Mereka menyadari kesalahan mereka, namun mereka keras kepala dan tetap kembali pada kemungkaran. Nabi Ibrahim merasa kesal dengan respon orang-orang. Kemudian, beliaupun menanyakan mereka sebuah pertanyaan yang tajam. (QS. Al Anbiya: 66-67).

Pada ayat selanjutnya, dijelaskan bahwa mereka tetap memutuskan untuk bertahan dengan keyakian mereka dan membakar Nabi Ibrahim. Atas kehendak Allah, api yang yang digunakan untuk membakar berubah menjadi dingin. Tubuhnya diselamatkan dari panasnya api; hanya tali yang mengikatnyalah yang hangus terbakar.

Kelahiran Nabi Ibrahim dan Hubungannya dengan Raja Nimrud

Banyak ahli sejarah yang mengkaitkan peristiwa kelahiran Nabi Ibrahim dengan sebuah kisah. Dikatakan pada suatu malam, Raja Nimrud bermimpi bahwa ada seorang anak laki-laki yang mengambil lalu menghancurkan mahkotanya. Diapun terbangun dari tidurnya dan bertanya-tanya mengenai arti mimpinya.

Keesokan hari, Raja Nimrud segera mengundang para dukun, peramal, dan ahli sihir untuk menerjemahkan arti mimpinya yang aneh tersebut. Menurut ramalan mereka, akan ada seorang anak yang memiliki pengaruh besar sehingga kekuasaan Raja Nimrud akan runtuh olehnya.

Raja Nimrud memercayai hal tersebut. Dia pun akhirnya memutuskan agar semua bayi yang lahir agar dibunuh demi menjaga kekuasaannya. Saat itu, ada seorang wanita yang sedang hamil. Dia merupakan istri dari seorang pembuat patung bernama Azar. Wanita ini bersembunyi di sebuah gua sampai akhirnya dia melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ibrahim. Atas bimbingan dan lindungan Allah, mereka pun selamat.

Diambil dari kitab Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, ada sebuah perdebatan antara Nabi Ibrahim dan seorang raja yang mengaku sebagai Tuhan sampai Nabi Ibrahim pun dibakar. Raja yang mengaku sebagai Tuhan ini adalah Raja Nimrud. Hal yang sama disampaikan juga oleh Hamka dalam bukunya bahwa Raja Babilonia, Nimrud, berdebat dengan Ibrahim.

Nimrud juga mengaku dia juga bisa menghidupkan dan mematikan makhluk hidup sebagaimana yang dilakukan Tuhan Nabi Ibrahim. Yang dimaksud Nimrud dengan kematian dan kebangkitan adalah dengan membunuh seseorang dan membiarkannya hidup. Pengakuan-pengakuan lain juga disampaikan oleh Nabi Ibrahim untuk membuat Raja Nimrud terdiam.

Nabi Ibrahim mengatakan bahwa Tuhannya mampu untuk membangkitkan matahari dari timur. Diapun menantang Raja Nimrud untuk melakukannya. Namun Raja Nimrud terdiam, menyadari bahwa dia tidak akan bisa melakukannya. Kenyataan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim membuatnya ketakutan akan ancaman kehilangan kekuasaannya. Karena itulah, beliau dibakar.

Mukjizat dan Kaitannya dengan Keadaan Sosial

Masih dalam buku yang sama, Nimrud memerintahkan rakyatnya untuk membakar Nabi Ibrahim. Mereka mengumpulkan bahan bakar yang banyak. Api yang mereka buat sangat besar dan terasa panas meskipun dari jarak yang jauh, merekapun memutuskan untuk melempar Nabi Ibrahim dengan ketapel (manjaniq) yang besar. Meski demikian, beliau tidak tersentuh sedikitpun oleh api tersbut kecuali tali yang mengikat dirinya seperti yang tertera pada buku Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka.

Mukjizat yang dimiliki oleh tiap nabi berbeda dan biasanya sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Allah memberikan mukjizat kepada nabi dan rasul-Nya untuk memvalidasi kebenaran mereka dan melemahkan kecerdasan manusia.

Mukjizat Nabi Ibrahim yang tidak bisa dibakar oleh api adalah bertentangan dengan hukum sebab akibat. Tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak hangus saat dibakar. Bagaimanapun, hukum tersebut tidak terjadi jika Allah berkehendak.

Editor: Fella Zufah

Avatar

Diki Dermawan

Mahasiswa IIUM Jurusan Quran Sunnah Ketua ISFI IIUM 2020/2021 Ketua Pensos FOTAR IIUM 2020/2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *