Keajaiban Al-Qur’an dan Kedekatan Kita Dengannya

Terasa sekali waktu berputar cepat, hingga yang dinanti kian mendekat. Tak ayal iklan-iklan sirup, aneka biskuit, mulai gencar promosi. Bahkan sudah lumrah, banyak yang menyiapkan perbekalan untuk lebaran (mudik, baju baru, dan sebagainya) dibanding mempersiapkan target perencanaan di waktu Ramadhan. Ibarat kalimat puitis berbunyi ‘bagaikan duri dalam daging’, dimaknai sesuatu yang selalu menyakitkan hati dan mengganggu pikiran. Eh, kok baper? Hi hi..

Nggak salah memang untuk mempersiapkan diri untuk momen lebaran, seperti kumpul bareng keluarga. Tetapi orientasi dan subtansi memaksimalkan waktu pada bulan Ramadhan jangan sampai terlupakan atau terlewat begitu saja. Karena bulan ini sangat agung, itu dibuktikan di dalam Al-Qur’an sebagai satu-satunya bulan yang disebutkan Allah Swt dan Al-Qur’an pun diturunkan.

Disebutkan oleh beberapa ahli, bulan Ramadhan memiliki sinonim yaitu syahrul shiyyam, syahrul qiyyam, serta juga syahrul qur’an. Sebab itu bagian dari betapa banyaknya peristiwa hebat terjadi di bulan Ramadhan.

Maka menjelang Ramadhan, ada beberapa nasihat agar senantiasa semangat dalam rangka menyambut ‘tamu agung’ melakukan amalan-amalan yang maksimal. Nasihat berikut adalah merupakan saduran dari buku Amalan Ringan Paling Menakjubkan karya Syekh Ali Jaber rahimahullah. Pembahasannya kesempatan kali ini, keajaiban membaca Al-Qur’an.

Keajaiban Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah (perkataan Allah) yang diturunkan kepada hamba-Nya, (yakni) Nabi Muhammad saw sebagai wahyu untuk beliau. Bulan Ramadhan adalah waktu turunnya, dan Al-Qur’an turun dengan 2 tahapan.

Pertama, turun 30 juz sekaligus, dari lauhul mahfuzh ke Baitul ‘Izzah, yaitu suatu tempat di langit bumi. Kedua, dari Baitul ‘Izzah di langit pertama ia lalu turun ke hati Nabi Muhammad SAW, dengan perantara malakait Jibril, dengan cara berangsur-angsur sesuai kebutuhan manusia. Serta pada tahap ini, Al-Qur’an tidak diturunkan secara utuh 30 juz, melainkan potongan ayat atau surat, tergantung kondisi terkait.

Sebagian besar orang sudah hafal, pasti tahu ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad saw adalah iqra`. Arti secara bahasa ialah ‘bacalah’. Apa maksudnya? Ia adalah anjuran kepada manusia untuk senantiasa membaca Al-Qur’an, bukan koran. Jangan pernah mengisi waktu tanpa mushaf dan jangan menanggalkan kedekatan dengan Al-Qur’an karena kesibukan.

Keajaiban selanjutnya yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar. Kemuliaan dunia akhirat, kemuliaan lahir batin, kepada tiap orang yang penuh perhatian terhadap Al-Qur’an dalam keseharian. Sampai manusia mendapatkan karakter Qur’ani dan berakhlaq Al-Qur’an. Seperti perangai Nabi Muhammad saw, terdapat dalam hadis yang berbunyi, kaana khuluquhu Al-Qur’an.

Namun sayang beribu sayang, masih banyak di kalangan masyarakat yang jarang membacanya. Ada yang beranggapan bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama di bulan Ramadhan. Fakta yang ada, benar-benar sedikit yang mengkhatamkan bacaannya pun dilakukan di bulan Ramadhan. Ya, itu sudah bagus memang, ketimbang tidak membaca sekali pun.

Beragam penjelasan terkait hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan agar menjadi ahli Al-Qur’an. Salah satu hadis yang masyhur di telinga adalah riwayat Muslim, dari Abu Umamah Al-Bahili, Rasulullah saw bersabda, “Bacalah oleh kalian Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat (pertolongan) kepada pembacanya.” Maka bacalah Al-Qur’an, karena ia akan menjadi penolong kita kelak di hari kiamat, hari perhitungan (hisab).

Adapun keutamaan yang akan didapat manusia terkait duniawi, jika takut miskin maka membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam. Hal ini seperti wasiat sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud ke anaknya. Jika ingin dimudahkan semua urusan, semisal istri sedang hamil, ingin lancar persalinannya, maka dibacakan surat Maryam hingga usai persalinan dan setelah itu berhenti. Jika ada yang meninggal, anggota keluarga misalkan, maka bacalah surat Yasin sekian hari.

Al-Qur’an dalam Kehidupan Kita Sekarang

Tampak dalam realita kehidupan, sepertinya beberapa orang menjadikan Al-Qur’an itu hanya tatkala sedang butuh untuk suatu keperluan. Manusia senantiasa mendengar bacaan Al-Qur’an lewat speaker masjid daripada mendengarkan langsung lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari dalam rumah.

Ironis, sebagai umat Nabi Muhammad saw, yang mengaku cinta Rasul, tetapi jarang membaca Al-Qur’an bahkan tidak mampu membacanya, na’udzubillah. Padahal Rasulullah saw pun senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan 1 kali terhitung dari hari Sabtu dan khatam pada Jum’at.

Hal tersebut dinamakan oleh para ulama adalah hizbun nabi. Lalu dari kalangan sahabat, ada yang dalam tiga malam mampu mengkhatamkan Al-Qur’an. Indonesia dengan mayoritas masyarakat bermazhab Syafi’i, harusnya meneladani beliau tidak hanya dalam urusan fiqh, melainkan juga dalam hal akhlaq dan ibadah beliau.

Beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali saat berada di bulan Ramadhan. Jika dihitung kembali, beliau mampu 60 kali khatam selama Ramadhan, maka dalam sehari beliau khatam 2 kali. Subhanallah.

Editor: Shidqi Mukhtasor

Avatar

Fatih Al-Qarni

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar-Rahmah Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *