Hikmah yang Hilang di Pembatasan Sosial Berskala Besar

Halo, apa kabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja. Semoga keberkahan yang Allah Swt. berikan setiap hari nya dapat selalu kita syukuri dan nikmati di tengah pembatasan sosial berskala besar ini.

#dirumahaja bagi saya yang suka di rumah itu jadi surga dunia. Ngomong-ngomong soal hari ke-7, walaupun suka di rumah, layaknya manusia biasa pasti ada rasa jenuh menghampiri. Saya memutuskan ngobrol sama kakak saya yang ada di Jakarta.

Mencari Hikmah dari Pembatasan Sosial Berskala Besar

Saya ceritakan perasaan jenuh saya, dari obrolan itu saya dapatkan banyak hal. Salah satu nasehatnya ialah, “Harta yang hilang dari seorang muslim sekarang ini adalah hikmah.” Dia menambahi, “Setiap hari yang ada di kepalaku adalah mencari-cari hikmah di balik ini semua, karena kalau tidak begitu kita akan mudah menyalahi keadaan dan jadi ga bersyukur.”

Hal itu coba saya praktekkan, sampai saya buat list apa aja hikmah yang saya dapat dari #dirumahaja. Salah satunya ialah mengistirahatkan kaki saya yang baru saja terkilir 2 minggu lalu. Satu pekan sebelum libur, saya tidak masuk kelas karena itu. Satu minggu berlalu saya sudah bisa berjalan, tapi belum seperti normal. Setelah berkonsultasi ke banyak orang, katanya kaki ini bisa benar-benar pulih jika diistirahatkan 1 bulan.

Di situ yang di pikiran saya cuma bagaimana ke kelas dengan keadaan tiap hari harus jalan dari mahallah ke kelas yang jaraknya ditempuh dalam 20 menit. Qadarullah, sehari setelah itu diumumkan ada libur 2 minggu. Saya gak tau lagi gimana cara bersyukurnya sama Allah. Momennya pas. Alhamdulillah.

Kewajiban Kita Lebih Banyak daripada Waktu

Setelah memikirkan banyak hikmah lainnya, tiba-tiba kejenuhan saya jadi hilang. Beliau juga bilang ditelfon, al-wajibat aktsar minal awqat, yang artinya kewajiban atau tugas-tugas kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya.

Justru momen #dirumahaja akibat pembatasan sosial berskala besar ini membuat kita berfikir. Sebenarnya kita itu tidak sedang diberi waktu luang lebih, tapi kita sedang disadarkan betapa banyak tugas yang kita punya sampai waktu yang ada ga cukup untuk menyelesaikan itu semua.

Tugas yang paling kita lupa adalah mengingat mati atau mempersiapkan akhirat kita. Lagi scroll timeline di Instagram sampai ada yang buat poster isinya, “Kemungkinan kita meninggal karena Corona satu persen, sedangkan kemungkinan kita meninggal setiap saat adalah seratus persen.”

Dalam hadis dikatakan, ‘‘Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.” (HR Ibnu Majah).

“Dan, barang siapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaanya (dengan tunduk).” (HR. Ibnu Majah).

Sampai diakhir telfon kakak saya nyeletuk, “Kalau misal nya kita sekarang meninggal karna wabah Corona ya berarti kita diitung syahid. Tapi kalau kita meninggal karna stress atau jenuh karena mikirin gatau mau ngapain, nah itu perlu jadi peringatan buat kita.”

Seminimal mungkin yang bisa kita lakukan sekarang adalah membiasakan mulut kita untuk berzikir kepada Allah. Dan zikir yang paling bagus adalah ‘La Ilaha illa Allah’. Pernah dalam satu kajian seorang Ustadz berkata, “Ketika kita mati, otak kita sudah tidak berfungsi, jadi yang menggerakkan mulut kita untuk mengucap kalimat La ilaha illaAllah adalah karena mulut kita yang terbiasa mengucap itu.”

“Whenever you are alone, remember Allah has sent the whole world away, so that it’s only you and Him.”

Mufti Menk

Semoga momen #dirumahaja akibat pembatasan sosial berskala besar ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil.

Wallahu a’lam bisshowab

Artikel ini adalah hasil sunting ulang dari artikel yang telah terunggah di kliktarbiyah.com berjudul ‘Hikmah yang Hilang’ pada 24 Maret 2020.

Editor: Shidqi Mukhtasor

Avatar

Inas Syarifah

Ketua Divisi Annisa Fotar IIUM 19/20. Mahasiswi jurusan Quran and Sunnah di International Islamic University of Malaysia

4 thoughts on “Hikmah yang Hilang di Pembatasan Sosial Berskala Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *