Hati-Hati Dengan Hati, Tidak Pacaran dengan Sikap Wara’

Zaman sekarang, begitu banyak orang yang mencari pembenaran untuk suatu permasalahan yang sudah jelas hukumnya.  Padahal permasalahan tersebut sudah dibahas oleh para ulama (jumhur ulama). Mereka melakukan cherry picking terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Saat ini banyak orang yang melegitimasi pacaran dengan dalil agama, sebagai pembenaran hukum pacaran. Bahkan mempromosikan gerakan pacaran, sebagai bagian kebutuhan agar saling mengenal sebelum menikah. Penulis ingin membahas persoalan pacaran dari perspektif sikap wara’ (berhati-hati) dan pentingnya berkomitmen.

Sikap Berhati-hati dalam Beragama sebagai Kunci

Sikap berhati-hati dan menjaga kesederhanaan adalah salah satu dari sikap spiritual. Sikap ini merupakan kunci dalam agama Islam, biasa dikenal dengan istilah wara’. Ibnu Taimiyyah menjelaskan sikap wara’. Wara’ adalah ‘sikap berhati-hati dari terjerumus dalam  perbuatan haram atau yang masih diragukan keharamannya. Dalam meninggalkan perkara tersebut, tidak ada mafsadat yang lebih besar dari mengerjakannya’ (Majmu’ Fatawa, 10/511).

Maka, sikap wara’ adalah senantiasa menjaga perlakuan dari segala potensi syubhat menuju keburukan. Sikap ini dilakukan demi mencapai sebaik-baiknya kualitas akhlak. Karakter wara’ digambarkan dengan baik sebagai sikap etis muslim dalam menentukan sikap dan mengajak orang kepada kebaikan. Seperti dalam tahapan turunnya larangan meminum khamr secara berangsur. Pada tahap pertama dan kedua dalam proses tidak langsung melarang. Tapi aturan meminum khamr dijelaskan dari sisi kebaikan dan keburukannya.

Ayat pertama turun di an-Nahl ayat 67 menjelaskan bahwa anggur dapat menjadi minuman memabukan dan rezeki yang baik.  Dalam ayat ini dijelaskan  bahwa ada tanda kebesaran Allah bagi yang mengerti. Pada tahap kedua, dorongan diperjelas dengan pesan bahwa khamr dan judi memiliki dosa besar.

 Tapi tetap dijelaskan tentang manfaat khamr walau dosanya lebih besar, pada QS: Al-Baqarah ayat 219. Dua tahapan ini mendorong manusia untuk memilih pilihan terbaik menggunakan akal. Manusia harus melihat mudharat yang besar dari suatu pilihan. Walaupun ada kebaikan pada hal tersebut. Maka dengan paradigma wara’ yang demikian, ia perlu digunakan untuk menimbang jalan pacaran sebelum menikah. Apakah pacaran memiliki manfaat lebih besar daripada mudharatnya?.

Orang yang permisif dengan pacaran untuk kepentingan pernikahan memiliki argumen penting menurut mereka. Bagi mereka frasa ‘jangan mendekati zina’ bermakna ‘jangan berpegangan tangan dan perilaku serupanya’. Menurut mereka tidak semua pacaran itu mesum, hanya senang memandang dan bermanja dalam ucapan.

Namun tidakkah semuanya bermula dari pandangan dan ucapan? Karena itulah himbauan untuk menjaga pandangan dan ucapan antar lawan jenis ditegaskan. Penegasan aturan pandangan terdapat pada an-Nur ayat 30. Ayat ini mengkhususkan untuk lelaki agar menjaga pandangannya. Sedangkan pada al-Ahzab ayat 32 dikatakan agar istri-istri nabi tidak melembutkan suara sehingga tidak menarik lelaki yang memiliki penyakit dalam hatinya.

Segala konteks muamalah antara lelaki dan perempuan semestinya terjaga dalam kerangka wara’. Melalui sikap wara’ maka tidak membuka jalan pacaran sebagai lawful dengan segala syubhatnya. Tentu saja dalam bersikap wara’ perlu berhati-hati juga. Bisa dibilang, kita perlu berhati-hati dalam berhati-hati. Hal ini dilakukan agar tidak termasuk dalam kategori ghuluw.

Dalam al-Maidah ayat 77, ghuluw dijelaskan sebagai sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Kita juga mengenal hadis populer terkait sahabat nabi yang tidak ingin menikah, salat setiap waktu, dan senantiasa berpuasa.  Rasul justru menegur perilaku-perilaku yang berlebihan seperti demikian (Hadis Riwayat Bukhari).

Memahami dan bersikap dalam Islam harus senantiasa berhati-hati dan mengemukakan sikap yang moderat, sebagaimana firman Allah pada al-Baqarah ayat 143 yang berbunyi,

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot...”.

Banyak ditemui di sekitar kita gerakan-gerakan yang berusaha menyuarakan pesan wara’ dalam beragama. Namun karena kurang wawasan, justru terjebak dalam bersikap berlebihan, insecure, dan populis. Seperti berbagai media sosial Islami dan gerakan yang ingin menyuarakan penolakan terhadap pacaran, namun justru menyebarkan pesan-pesan misoginis yang alih-alih menyuarakan sikap wara’.

Malah yang disampaikan menjadi kontradiktif terhadap pesan besar beragama Islam. Maka berhati-hati dalam beragama harus senantiasa dilandasi dengan wawasan yang luas. Hal ini dimaksudkan agar muslim dapat mencerminkan sikap beragama yang dewasa. Umat Islam tidak mudah mengucapkan hukum tanpa mengetahui dan mempertimbangkan implikasi-implikasi sosial-budaya.

Rendahnya Komitmen sebagai Kehancuran Keluarga

Sebuah kendaraan akan menentukan sampai atau tidaknya seseorang pada tujuannya. Memilih kendaraan yang salah berisiko mencapai tujuan dengan tidak selamat. Memilih pacaran sebagai cara untuk mengenal sebelum menikah, memiliki resiko pada titik korban perasaan dan ketidakpastian.

Pasangan pacaran akan membangun citra untuk melanggengkan pacarannya, hingga terkadang berbohong. Ini berpotensi pada kepura-puraan yang akan terbongkar pada masa pernikahan. Hal ini akan berujung pada ketidakharmonisan. Maka, mengenali calon setelah matang emosional dan finansial menjadi pilihan yang tepat. Sehingga terhindar dari drama sebelum terpautnya perasaan hati dengan kuat yang berkelanjutan. Langkah ini mengantisipasi terjadinya fitnah dan sakit hati. Tradisi ini sudah dilakukan sejak dahulu, dan kini ditakuti dengan istilah arabnya, yakni ta’aruf.

Sebuah jurnal dari Jurnal Komunitas UNNES berjudul ‘Rendahnya Komitmen dalam Perkawinan sebagai Sebab Perceraian’. Dalam jurnal ini disebutkan bahwa kultur nikah-cerai seperti hubungan pacaran yang dipertontonkan di media selebriti. Hal ini berkontribusi dalam mengaburkan nilai masyarakat terhadap esensi nilai keluarga yang semestinya menjunjung tinggi nilai komitmen. Maka, kasus di atas akan berdampak pada angka perceraian. Pernikahan tentu tidak seperti pacaran yang bisa putus kapan saja dengan discomfort sekecil apapun.

Kesadaran memilih pernikahan dengan pemikiran dewasa membentuk komitmen kuat antar pasangan.  Para pasangan dapat belajar untuk menerima perbedaan dan saling memperbaiki kekurangan menuju kebaikan bersama. Tentu sebelum terjadinya pernikahan, perlu disepakati berbagai komitmen dan aturan yang disepakati berdua.

Langkah paling baik untuk menikah adalah mendatangi calon dengan kesiapan emosi, kesadaran kesetaraan gender, dan finansial. Kemudian mengkomunikasikan prinsip sebelum berkomitmen. Tentu bukan dengan bermain-main dengan hati tanpa komitmen dan tanggung jawab. Mari kita semakin berhati-hati dalam beragama, dengan komitmen, dan dengan hati. Hati-hati bermain hati.

Editor: Milly Camelia

Avatar

Shidqi Mukhtasor

Redaktur IBTimes.ID. MPIH PCIM Malaysia. Pimred isfiiium.com. Mahasiswa S1 Usuluddin di Internasional Islamic University of Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *