Budak Amerika yang Bebas Karena Al-Quran

Remaja yang Dibuang ke Amerika

Suatu ketika di kurun awal 1700-an, tulis Allan D. Austin, seorang remaja asal daerah yang kini dikenal sebagai Gambia dan Senegal ditangkap paksa. Remaja itu diikat, lalu digelandang ke kapal tiang tinggi (kapal layar lintas samudera).

Sebagaimana profesi sebagian pelaut Inggris masa itu, menangkap manusia di pesisir pantai Afrika untuk kemudian menjualnya ke Amerika adalah sumber pendapatan yang menjanjikan. Bagi orang Barat ‘The East is a Career’, tulis Benjamin Disraeli. Bisa jadi westerners mabuk dengan wacana itu.

Mereka punya cara pandang yang aneh terhadap orang non-eropa (baca: non kulit putih). Sebutan-sebutan sub-human, jenis yang belum sempurna berevolusi, bangsa yang harus diajari peradaban, dan lainnya menghiasi jurnal-jurnal cendikiawan di London dan Paris.

Karl Marx yang digadang-gadang pro persamaan itu pun tak kalah sadis, “Orang-orang itu gak mampu merepresentasi diri mereka sendiri, kita yang harus mengajarinya.” lantangnya mengiyakan penjajahan.

Gelar mentereng mereka adalah orientalist. Selalu siap memasok dalil pembenaran untuk aksi-aksi kolonialisme. Edward Said, dalam bukunya Orientalism, menuduh mereka dengan sengit sebagai picik dan hanya mengabdi untuk kolonialis imperial, bukan untuk ilmu pengetahuan.

Al-Quran yang Membebaskan Budak

Sang remaja adalah anak seorang mufti. Di daerah asalnya jangankan anak mufti, anak orang awam saja biasa menjadi hafidz. Selain Al-Qur’an, mereka juga menghafal kitab fikih dasar mazhab Maliki semisal Risalah Abu Zaid al-Qairawani. Mirip seperti anak pesantren kita mungkin yang menghafal kitab fikih dasar mazhab Syafi’i, Matan Abu Syuja’.

Syahdan, tanpa tahu sebabnya anak berwajah terang, bermata besar, berjidat lebar, dengan dagu runcing ini mendapati dirinya sudah di Maryland Amerika, berstatus budak.

Tapi memang dasar pembelajar, ia dengan cepat belajar bahasa setempat. Bahkan ia menulis kembali Al-Qur’an dari memorinya dalam beberapa eksemplar buku. Bukan cuma itu, remaja itu menulis risalah fikih juga.

Kagum dengan bujangnya, sang tuan jadi tertanya-tanya. Pasti ini bukan sembarang orang. Perlu diingat, bahkan di Amerika pada masa itu tak banyak orang yang bisa baca tulis, konon lagi melek literasi.

Entah bagaimana kabar tentang ‘budak hitam’ yang intelligence akhirnya sampai juga ke telinga King George II, Raja Inggris. Ia bersama tuannya kemudian diminta datang jauh melintasi Samudera Atlantik ke pusat imperialis dunia itu.

Setelah bertemu raja, namanya segera melegenda, jadi buah bibir di mana-mana. Singkat cerita ia akhirnya kembali berstatus sebagai orang merdeka.

Menantang Akidah Barat

Suatu waktu pada 1734 M sebelum naik kapal untuk pulang ke kampung halaman, pelukis istana meminta kesediaan agar wajahnya bisa diabadikan di atas kanvas.

“Dalam pakaian daerah Anda.” pinta si seniman.

“Bagaimana saya bisa punya pakaian daerah? Dulu saat kalian tangkap, saya tidak sempat pulang dulu untuk ambil baju!” 🙂

“Begini saja, saya kasih deskripsi rupa kostum daerah kami lalu kalian lukis dengan itu, bagaimana?”

“Tapi kami tidak mungkin melukis sesuatu yang tidak kami lihat.”

Langsung dibalas sang pemuda Al-Quran tersebut, “Lalu bagaimana dengan tuhan kalian yang saya lihat lukisannya di mana-mana, apakah kalian pernah melihatnya?”

Ups.. Powerful, isn’t it?

***

Dia adalah Ayuba Sulaiman, penjaga dan pemikul Al-Quran pemilik wajah terang, bermata besar, berjidat lebar, dengan dagu runcing.

Untuk lebih lanjut, sila baca buku Allan D. Austin, African Muslim In Antebellum America.

Artikel ini adalah hasil sunting dari artikel yang telah terunggah sebelumnya di kliktarbiyah.com pada 2 Agustus 2019 dengan judul ‘Budak Amerika yang Bebas Karena Al-Quran’.

Editor: Shidqi Mukhtasor

Avatar

Eko Hardikubowo

Anggota Pensos FOTAR IIUM 19/20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *