Akhlak Mulia adalah Kunci Kesuksesan Dakwah

Dakwah memiliki arti menyeru atau mengajak. Dalam konsep Islam dakwah memiliki makna mengajak untuk beriman kepada Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah. Dakwah merupakan kewajiban yang dimiliki oleh setiap muslim dan hal tersebut telah dijelaskan
melalui beberapa hadits Rasulullah yang diriwayatkan para sahabat, seperti dalam hadis berikut,

“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Efektifitas Dakwah Melalui Tindakan

Dakwah paling sederhana adalah dengan memberikan contoh kepada mad’u (orang yang kita seru). Kita dapat mengambil contoh dari cara belajar anak kecil yang sangat pandai meniru orang dewasa. Bagi anak kecil belajar melalui visual jauh lebih mudah dibanding melalui audio.

Akhlak mulia menjadi hal yang sangat vital dalam kesuksesan berdakwah. Misalnya, seorang da’i menyampaikan tentang pentingnya menggunakan kalimat toyyibah (berkata baik). Tetapi, kenyataannya sang da’i berbicara kasar dan suka memaki. Tentu masyarakat tidak memiliki simpati kepada da’i tersebut.

Mencontoh Akhlak Mulia Rasulullah saw

Keluhuran akhlak mulia Rasulullah menjadi contoh terbaik dalam tolak ukur kesuksesan dakwah bagi kita. Seperti dalam kisah seorang Yahudi buta yang selalu memaki Rasulullah setiap waktu. Dalam kisah ini, Rasulullah tetap membalas makian dengan perbuatan baik.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits tentang gambaran akhlak Rasulullah saw, “Wahai Ummu al-Mu’minin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah saw, maka Aisyah menanyainya kembali: apakah kamu tidak membaca al-Quran? Maka aku menjawab: iya. Maka Aisyah menjawab : sesungguhnya akhlak Rasulullah saw ialah al-Quran.” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad saw adalah Al Qur’an berjalan yang sesungguhnya. Beliau bertindak, berkata, dan seluruh hidupnya berpedoman pada Al Qur’an. Beliau melaksanakan apapun yang Allah perintahkan dan menjauhi larangan-Nya.

Menjaga Akhlak Mulia di Era Digital

Menjaga akhlak yang baik adalah kewajiban bagi seluruh ummat Islam. Kewajiban ini tentu berlaku baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Seringkali kita terpancing emosi di dunia media sosial. Umat Islam di media sosial sering tenggelam dalam debat kusir. Kemudian, mereka terpancing berkata kasar dan saling memaki.

Memang kita sebagai manusia akhir zaman yang terlahir di era digital memiliki tantangan yang semakin hebat dalam menjaga akhlak mulia. Semua orang tentu tidak hanya menilai kita di dunia nyata saja. Tentu akhlak kita di media sosial pun memiliki perhatian dari orang-orang awam yang perlu kita dakwahi.

Alangkah indahnya, jika kita mencontoh Rasulullah saw. Saat beliau dihina beliau dapat bersabar. Saat Islam dihina oleh para musuh, beliau melawan dengan elegan dan cerdas. Begitulah seharusnya kita bersikap sebagai seorang muslim yang takwa.

Mendahulukan Akal Sebelum Bertindak dan Berkata

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang
benar.” (QS: Al Ahzab: 70).

Ayat ini menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian ketakwaan seorang muslim. Menjaga lisan adalah bagian dari akhlak terpuji bagi seorang muslim. Melalui lisan, suami istri yang dimabuk cinta dapat bercerai. Melalui lisan, kawan dapat menjadi lawan. Dalam sebuah peribahasa “mulutmu harimaumu”. Untuk saat ini, tidak hanya lisan yang dapat mencelakai, tapi juga tulisandalam media sosial.

Poin penting bagi umat Islam, kita harus menggunakan akal dahulu sebelum bertindak dan berkata. Berhati-hati dalam segala perbuatan, karena kita selalu dalam pengawasan Allah Swt. Mengutip perkataan fenomenal dari seorang seniman bela diri Rusia, Khabib Nurmagomedov. Beliau berkata “Orang Non-Muslim tidak membaca Al-Qur’an, mereka tidak membaca hadis. Yang mereka baca adalah dirimu, maka jadilah cerminan Islam yang baik.”

Avatar

Milly Camelia

Mahasiswi Jurusan Bahasa Arab International Open University. Seorang hamba miskin ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *