Kesetaraan antara Laki-laki dan Perempuan dalam Al Qur’an

Allah Swt telah memuliakan wanita sebagai manusia, wanita sama kedudukannya dengan pria. Oleh karena itu, hukum yang berlaku untuk wanita sama seperti yang berlaku untuk pria, kecuali yang dikhususkan untuk wanita agar sesuai dengan tabiatnya. Allah tidak memandang amal hamba-Nya berdasarkan jenis kelaminnya. Itulah konsep kesetaraan sesungguhnya.

Seperti yang disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 195 :

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.“

Wanita berasal dari pria dan pria berasal dari wanita. Yang satu bukan musuh dan lawan bagi yang lain. Masing-masing saling melengkapi. Ini kaidah penting untuk mengetahui hubungan pria dan wanita.  Selanjutnya masih di ayat yang sama,

“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”

Ayat di atas menjelaskan bagaimana konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perbuatan orang-orang yang beramal, baik pria maupun wanita bersamaan. Pada dasarnya, di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah, masalah khithab (ajakan atau seruan) dialamatkan kepada laki-laki dan wanita secara sama. Mulai dari penetapan martabat manusia sampai pada tanggung jawabnya dalam bidang pidana. Dengan catatan, adanya beberapa perbedaan yang sifatnya terbatas.

Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.” (QS An-Nisa : 124).

Islam Menurut Gender atau Gender Menurut Islam?

Islam tidak menjadikan jenis kelamin sebagai basis ajarannya. Turuq istinbathil ahkam (pengambilan hukum) tidak dilandaskan pada jenis kelamin maupun gender. Maka perempuan dan laki-laki setara dalam taklif syar’i, dalam memenuhi rukun iman & islam.

”Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab : 35).

QS Al-Ahzab ayat 35 di atas menegaskan 10 kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah. Kesetaraan tersebut yaitu dalam berislam, beriman, menjalankan ketaatan, kesungguhan, kesabaran, kekhusyuan, kedermawanan, puasa, kehormatan dan zikir.

Kedudukan manusia dalam Islam tidak didasarkan pada jenis kelaminnya, tetapi tergantung taqwanya. Laki-laki maupun perempuan masing-masing memiliki independensi dalam mempertanggungjawabkan perbuatannnya. Perbedaan peran gender dalam Islam tidak menentukan derajat ketinggian surga. Sejatinya, yang sama itu adalah jiwanya, sama-sama memiliki potensi menuju takwa.

Islam menetapkan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah yang sama dalam tanggung jawab amal, memiliki peluang pahala dan tempat kembali (akhirat). Memang ada beberapa perbedaan hukum antara pria dan wanita dalam beberapa hal.

Perbedaan untuk Melengkapi, Bukan Menyelesihi

Perbedaan tetap mencerminkan keadilan karena secara biologis pria dan wanita memang berbeda seperti pada struktur tubuh dan akal. Jenis aktivitas dan tugas yang dibebankan pun berbeda. Yang perlu digarisbawahi adalah perbedaan ini ada untuk saling melengkapi. Perbedaan dan pengkhususan tersebut bertujuan untuk saling mengenali.

Laki-laki dan perempuan tidak diciptakan mutasyabihain (serupa atau setara), tapi mutakamilain (saling melengkapi). Maka istilah yang tepat menggambarkan laki-laki dan perempuan adalah dengan keserasian. Serasi tidak harus setara. Sebab keserasian tidak menuntut kesamaan, persamaan apalagi penyamaan. Keserasian adalah buah dari keberagaman dan perbedaan yang akan menghasilkan keterpaduan utuh serta hubungan baik yang melahirkan ketentraman lahir batin.

Pemahaman konsep keserasian ini, penulis memberikan saran bahwa kewajiban terlibat aktif dalam dakwah adalah tugas bersama. Memerangi ketimpangan sosial dan meningkatkan SDM dalam Islam tidak difokuskan pada jenis kelamin tertentu. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan ilmu dan adab, serta segala bentuk kemungkaran sosial lainnya menjadi tanggung jawab bersama, laki-laki dan perempuan.

Editor : Nadia Fitri Salamah

Avatar

Kania Isti Khatimah

Mahasiswi Jurusan Qur'an dan Sunnah di IIUM. Sekretaris Forum Tarbiyah IIUM 20/21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *